Senin, 21 November 2016

Ekologi Industri Dalam Mendukung Pembangunan agro-industri Park Skala Pedesaan



Ekologi Industri Dalam Mendukung Pembangunan Agro-Industrial Park Skala Pedesaan

Dosen Pengajar : dr.Lery.Suoth
Description: Image result for logo k3

Nama         : Firsty Jovial Noli
NRI            : 14111101347



Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sam Ratulangi
Manado
2016

Metode Penelitian :
Penulis melakukan studi literature dan studi pendahuluan untuk mengetahui proses kegiatan di CV. Bangkit Mandiri dikarang jati. Proses kegiatan yang terjadi merupakan kegiatan yang saling berkelanjutan dan tersimbiosis. Simbiosis industry merupakan sebuah bentuk kerjasama yang memiliki tingkat yang saling bergantungan antar kegiatan industri yang melakukan pertukaran material, energy dan berbagai hal lain yang saling menguntungkan  bersama Frosch dan Gallopoulos (1989) memberikan gambaran “ekosistem industry”  dimana konsumsi energy dan material dioptimalkan dan hasil  dari suatu proses dapat merupakan bahan baku bagi proses lain. Dari siklus rangkaian kegiatan industri ini  diharapkan dapat meminimalkan limbah dan membentuk siklus tertutup (close loop) serta nir limbah (zero waste) bagi perusahaan.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah action research. Action research adalah penelitian komparatif pada kondisi dan efek berbagai bentuk tindakan social dan penelitian yang mengarah pada perubahan social (Reason & Bradbury, 2001). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi. Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi yang ada dengan pengembangan model sehingga dapat diketahui siklus keseimbangan dari model agro-eko-industri.
Metode yang digunakan dalam metode ini adalah menggunakan mass balance dalam model matematis. Dari model dapat dilihat input dan outpu dan material tiap industry dan limbah yang belum dimanfaatkan

Identifikasi Variabel :
Untuk mengetahui kelebihan dari model yang dibuat maka perlu dilakukan analisis terhadap beberapa variable. Apabila dikaitkan dengan konsep EIP (Lowe,2001), maka variable yang dijadikan patokan analisi model adalah :
1.     Penggunaan energi dan air
2.     Pengolahan aliran material dan limbah
3.     Manajemen EIP yang efektif
4.     Integrasi dengan masyarakat
Hasil dan Pembahasan faktor pemicu :
Faktor pemicu disini adalah industri yang menjadi dasar dari terbentuknya suatu model. Segala  perubahan yang terjadi didalam model diawali dari dari perubahan dari faktor pemicu. Dalam penelitian ini dipilih usaha peternakan sapi sebagai faktor pemicu. Pemilihina factor pemicu ini berawal dari isu yang sudah berkembnag dimasyarakat mengenai program pemerintah tentang swasembada daging sapi (PSDS). Melalui PSDS pemerintah berupaya  untuk meningkatakan populasi ternak sapi sehingga mencapai 14,2 juta ekor pada tahun 2014 dapat mecukupi 90-95% dari permintaan daging nasional. Peningkatan  populasi ternak sapi secara nasional  dan regional akan meningkatkan limbah yang dihasilkan. Apabila limbah tersebut tidak dikelola sangat berpotensi menyebabakan pencemaran lingkunagn terutama dari limbah kotoran yang dihasilkan ternak setiap setiap hari. Pembuangan kotoran ternak sembarangan dapat menyebabkan pencemaran pada air, tanah dan udara (Bau), berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas hidup peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik social.

Faktor Pendukung :
Faktor pendukung disini ialah industri yang mendukung factor pemicu dalam pengembangan model AEIP. Industry-industri yang mendukung peternakan dalam penelitian ini adalah sbb :
Biodigester :
Biodigester atau biasa yang disebut dengan Bio reactor yanag merupakan reactor anaerob. Reactor ini sangat afektif untuk pengolahan kotoran ternak yang dirombak menjadi bahan biogas oleh mikroba dalam kondisi tanpa oksigen dan dari bio reactor ini dapat menghasilkan gas dari kotoran sapi yang digunakan sebagai inputan untuk biodigester yang dikenal dengan biogas. Berdasarkan penelitian Amaru (2004), limbah kotoran padat dan cair ternak sapi dapat diolah dalam biodigester menjadi sumber energi yang terbarukan.
          Alasan lain dalam pemilihan biodigester kedalam model AEIP ini adalah dengan adanya program swasembada daging sapi pada tahun 2014, maka akan terjadi peningkatan limbah dari kotoran ternak. Kotoran biodigester dapat meredam peningkatan kotoran yang dihasilkan . salah satu kandungan kotoran sapi yaitu gas metana. Gas metana merupakan komponen terbesar dalam pembuatan biogas. Menurut KLH (2006), penggunaan biogas ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi pecemaran lingkungan, karena dengan fermentasi pengurangan pencemaran lingkungan, dengan parameter BOD, COD akan berkurang sampai 90%. System ini banyak dapakai dengan petimbangan ada manfaat yang bias diambil yaitu pemanfaatan biogas yang sangat memungkinkan digunakan sebagai bahan sumber energy karena gas metan sama dengan gas elpiji (liquid petroleum gas/LPG).

Industri pupuk organic :
Pemilihan pupuk organik sebagai salah satu factor pendukung karena adalah hasil samping dan pebuatan biogas yaitu slury yaitu lumpur hasil samping biogas yang gasnya telah hilang dan banyak mengandung unsur hara yang tinggi untuk tanaman. Lumpur tersebut mengandung padatan dan cairan. Padatan tersebut dapat dijadikan kompos dengancara dikeringkan, sedangkan cairan tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair.

Hijauan Ternak :
Berdasarkan program swasembada daging sapi 2014, hijauan ternak merupakan kebutuhan pakan yang sangat dibutuhkan untuk konsumsi. Menurut Badai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, 2009 setipa hari sapi memerlukan hijauan sebanyak 10% dari berat badanya dan konsentrat 1-2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek,ampas tahu, dan lain-lain, yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Hijauan yang digunakan  sebagai pakan ternak yaitu hijauan rumput gajah. Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan jenis rumput unggulan yang mempunyai produktivitas dan kandungan zat gizi yang cukup tinggi serta serta disukai oleh ternak ruminansia. Rumput gajah mempunyai produksi bahan kering 40% sampai 63 ton /ha/tahun (Siregar, 1989) dengan rata-rata kandungan zat-zat gizi yaitu : protein kasar 10,2%, BETN 42,3%, serat kasar 34,2%, lemak 1,6% abu 11,7% (Chuzaemi dan Soejono, 1987).

Integritas Industri Pemicu dan Industri Pendukung :
Pada industry tahu membutuhkan air dan kedelai. Dari umlah air dan kedelai tersebut menghasilkan tahu, ampas tahu dan limbah cair. Limbah cair kemudian dimanfaatkan untuk mengganti minum sapi sehingga mengurangi penggunaa air bersih. Sedangkan ampas tahu dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
          Selain ampas tahu, peternakan membutuhkan pakan jerami, ketela, bekatul dan rumput gajah yang dibeli dari pasar. Sedangkan untuk air, yang dibeli dari pasar. Sedangkan untuk air, peternakan membutuhkan air untuk membersihkan sapi. Dari pakan dan minum itu peternakan menghasilkan limbah kotoran sapi padat,kotoran sapi cair dan limbah cair kemudian emudian dimasukan kedalam biodigester untuk menghasilkan biogas yang digunakan untuk memasak sehari-hari. Sedangkan kotoran padat sapi ikut dimasukan kedalam biodigester, gas ini kemudian dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dilingkungan perusahaan.
          Keluaran biogas yaitu slury yang berbentuk lumpur. Lumpur tersebut dipisahkan antara padatan dana cairan. Cairan tersebut dimanfaatkan untuk produksi pupuk cair dan padatan tersebut dikeringkan. Kompos digunakan untuk pemakaian pupuk pada lahan rumput gajah pada saat penanaman.

Analisis Rancangan Model Berdasarkan Konsep EIP :
Analisi yang dilakukan didasarkan oleh variabel-variabel yang merupakan prinsip dari model Eco Industrial park. Berdasrakan Lowe (2000), variabel yang dianalisis adalah penggunaan energy dan air, pengelolaan material dan limbah, manajemen EIP yang efektif, dan integrasi dengan masyarakat sekitar.
Penggunaan Energi dan Air :
Pada model yang dikemangkan dalam penelitian ini sudah dipertimbangkan mengenai ketiga indicator tersebut. Model ini sudah melakukan integrasi penggunaan energy antar pabrik dan penggunaan sumber energy terbarukan yaitu dengan menggunakan energy biogas. Pada model ini efisiensi energy terlihat pada industry tahu yang mengganti penggunaan bahan bakar kayu dengan biogas. Sedangkan untuk efisiensi air, model ini sudah melakukan efisiensi dengan mengurangi penggunaan air pada peternakan sapi dan menggantinya dengan limbah cair dari industry athu.

Pengelolaan Aliran Material dan Limbah :
Model yang dikembangkan dalam penelitian ini sudah mempertimbangkan mengenai komposisi yang seimbang dilihat dari tidak adanya limbah yang tidak diolah dari masing-masing industry. Pada model ini dirancang untuk menghasilkan komposisi industry yang tidak mencemari lingkungan atau dapat dikatakan model yang menerapakan system zero waste.

Integrasi dengan Masyarakat sekitar :
Model yang dikembangkan ini sebenarnya adalah untuk mengembangkan potensi yang ada dipedesaan. Manfaat dari model ini langsung ditujukan untuk masyarakat. Harapan dari model ini adalah untuk memberikan kemandirian masyarakat terhadap kepenuhan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan energy. Masyarakat diharapkan tidak bergantung lagi  semata-mata pada pemerintah dan dapat memenuhi segala kebutuhan baik ekonomi maupun energy.

Analisi Ekologi Industri Diperusahaan Minyak Kelapa



ANALISIS EKOLOGI INDUSTRI DI PERUSAHAAN MINYAK KELAPA

Description: Image result for logo k3
     
 Mata Kuliah               : Ekologi Industri
    Pengajar             : Rahayu Akili,S.KM,M.Kes
     Oleh               : Firsty Jovial Noli
      NRI               : 14111101347


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016
Indonesia merupakan Negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar didunia dengan areal 3,88 juta hektar (97% merupakan perkebunan rakyat), memproduksi kelapa 3,2 juta ton setara kopra. Selama 34 tahun, luas tanaman kelapa meningkat dari 1,66 juta hektar pada tahun 1969 menajdi 3,89 juta hektar pada tahun 2005. Walaupun luas areal meningkat, namun produktivitas pertanaman cenderung semakin menurun (tahun 2001 rata-rata 1,3 ton/Ha, tahun 2005 rata-rata 0,7 ton/Ha). Produktivitas lahan kelapa Indonesia masih rendah dibandingkan dengan india dan srilangka. Perkebunan kelapa rakyat dicirikan memiliki lahan  yang sempit, pemeliharaan seadanya atau tidak sama sekali dan tidak pada skala komersial. Permintaan produk-produk berbasis kelapa  masih terus meningkaik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri. Industry turunan kelapa masih bias dikembangkan dengan melakukan diversifikasi produk olahan antara lain : oleo kimia, desiccated coconut, virgin oil, dan lain-lain.
          Selain itu, dengan berprinsip pada ekologi industri  yang diharapkan mampu menciptakan efisiensi dalam pengolahan bahan baku, dimana pengembangan ekologi industri merupakan suatu usaha untuk membuat konsep baru dalam mempelajari dampak system industri pada lingkungan. Ekologi industry adalah suatu sitem yang dugunakan untuk mengelola aliran energy atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi. Tujuan utamanya adalah mengorganisasi system industry sehingga diperoleh suatu jenis operasi yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep  ekologi industry dan empat elemen utama yaitu : mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energy yang tidak  terbarukan pada kajian ini, penerapan ekologi industry kelapa yang dapat dimaksimalkan pengolahannya dengan prinsip integrasi.



• Teknologi Proses Pengolahan Minyak Kelapa :
Minyak kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang dikeringkan) atau dari perasan santanya. Kandungan minyak pada daging buah kelapa tua diperkirakanmencapai 30%-35% atau kandungan minyak dalam kopra mencapai 63-72%. Minyak kelapa sebagai mana minyak nabati lainnya merupakan senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam  lemak dan 90% diantarannya merupakan asam lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa yang belum dimurnikan juga mengandung sejumlah kecil komponen bukan lemak seperti fosfida, gum, sterol (0,06-0,08%), tokoferol (0,003%), dan asam lemak bebas (<5%) dan sedikit protein dan karotin. Sterol berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak dan tokoferol sebagai antioksidan (Kataren, 1986). Setiap minyak nabati memiliki sifat dan ciri tersendiri yang sangat ditentukan oleh struktur asam lemak pada rangkain trigliseridanya. Minyak kelapa kaya akan asam lemak berantai khususnya asam laurat dan asam meristat. Adanya asam lemak rantai sedang ini (medium chain fat) yang relatif tinggi membuat minyak kelapa mempunyai beberapa sifat daya bunuh terhadap beberapa senyawa yang berbahayadidalam tubuh manusia. Sifat inilah yang didayagunakan pada pembuata minyak kelapa murni (VCO, virgin coconut oil).
          Secara garis besar proses pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan dua cara :
1.     Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa segar, atau dikenal dengan proses basah. Untuk menghasilkan minyak dari proses basah dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a.     Cara Basah Tradisional
b.     Cara Basah Fermentasi
c.     Cara Basah Sentrifugasi
d.     Cara Basah dengan Penggorengan
2.     Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa yang telah dikeringkan (kopra) atau dikenal dengan proses kering. Untuk menghasilkan minyak dari proses basah dapat dilakukan dengan beberap cara,yaitu :
a.     Ekstraksi secara mekanis (cara pres)
b.     Ekstraksi menggunakan pelarut

A. Pengolahan Minyak kelapa cara basah
Pembuatan minyak kelapa dengan cara basah dapat dilakukan dengan pembuatan santan terlebih dahulu atau dapat juga dipres dari daging kelapa setelah digoreng.
Santan kelapa merupakan cairan hasil ekstraksi dari kelapa parut dengan menggunakan air. Bila santan didiamkan secara pelan-pelan akan terjadi pemisahan bagian yang kaya dengan minyak dengan bagian yang kurang dengan minyak. Bagian yang kaya dengan minyak disebut sebagai krim, yang bagian yang kurang dengan minyak disebut dengan skim. Krim lebih ringan dibanding skim, karena itu krim berada dibagian atas dan skim pada bagian bawah.
1). Cara Basah Tradisional
     Ini sangat sederhana dapat digunakan dengan peralatan yang biasa terdapat didapur keluarga. Pada cara ini, mula-mula dilakukan ekstraksi dari kelapa parut. Kemudian santan dipanaskan untuk menguapkan air dan menggumpalkan bagian yang bukan minyak yang disebut blondo. Blondo ini dipisahkan dari minyak terakhir, blondo diperas untuk mengeluarkan sisa minyak.
2). Cara  Basah Fermentasi
     Ini agak berbeda dari cara basah tradisional, pada cara ini santan didiamkan untuk memisahkan skim dari krim. Selanjutnya krim dipermentasi untuk memudahkan pengumpulan bagian yang bukan minyak (terutama protein) dari minyak pada waktu pemanasan. Mikroba yang berkembang selama fermentasi, terutama mikroba penghasil asam. Asam yang dihasilkan menyebabkan protein santan mengalami penggumpalan dan mudah dipisahkan saat pemanasan
3). Cara Basah (Lava Process)
     Cara ini agak mirip dengan cara basah fermentasi. Pada cara ini, santan diberi perlakuan sentrifugasi agar terjadi pemisan skim dank rim. Pada proses sentrifugasi santan pada kecepatan 3000-3500 rpm. Sehingga terjadi pemisahan fraksi kaya minyak (krim)  dan fraksi yang kurang minyak (skim), selanjutnya diasamkan.
     Selanjutnya krim diasmkan dengan menggunakan asam asetat, sitrat atau HCl sampai pH4. Setelah itu santan dipanaskan dan diperlakukan seperti cara basah tradisional  atau cara basah fermentasi, kemudian diberi perlakuan sentrifugasi sekali lagi untuk memisahkan minyak dari bagian yang bukan minyak. Skim santan diolah menjadi konsentrat protein berupa butiran atau tepung.




ANALISIS EKOLOGI INDUSTRI DI PERUSAHAAN MINYAK KELAPA

Description: Image result for logo k3
     
 Mata Kuliah               : Ekologi Industri
    Pengajar             : Rahayu Akili,S.KM,M.Kes
     Oleh               : Firsty Jovial Noli
      NRI               : 14111101347


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016
Indonesia merupakan Negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar didunia dengan areal 3,88 juta hektar (97% merupakan perkebunan rakyat), memproduksi kelapa 3,2 juta ton setara kopra. Selama 34 tahun, luas tanaman kelapa meningkat dari 1,66 juta hektar pada tahun 1969 menajdi 3,89 juta hektar pada tahun 2005. Walaupun luas areal meningkat, namun produktivitas pertanaman cenderung semakin menurun (tahun 2001 rata-rata 1,3 ton/Ha, tahun 2005 rata-rata 0,7 ton/Ha). Produktivitas lahan kelapa Indonesia masih rendah dibandingkan dengan india dan srilangka. Perkebunan kelapa rakyat dicirikan memiliki lahan  yang sempit, pemeliharaan seadanya atau tidak sama sekali dan tidak pada skala komersial. Permintaan produk-produk berbasis kelapa  masih terus meningkaik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri. Industry turunan kelapa masih bias dikembangkan dengan melakukan diversifikasi produk olahan antara lain : oleo kimia, desiccated coconut, virgin oil, dan lain-lain.
          Selain itu, dengan berprinsip pada ekologi industri  yang diharapkan mampu menciptakan efisiensi dalam pengolahan bahan baku, dimana pengembangan ekologi industri merupakan suatu usaha untuk membuat konsep baru dalam mempelajari dampak system industri pada lingkungan. Ekologi industry adalah suatu sitem yang dugunakan untuk mengelola aliran energy atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi. Tujuan utamanya adalah mengorganisasi system industry sehingga diperoleh suatu jenis operasi yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep  ekologi industry dan empat elemen utama yaitu : mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energy yang tidak  terbarukan pada kajian ini, penerapan ekologi industry kelapa yang dapat dimaksimalkan pengolahannya dengan prinsip integrasi.



• Teknologi Proses Pengolahan Minyak Kelapa :
Minyak kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang dikeringkan) atau dari perasan santanya. Kandungan minyak pada daging buah kelapa tua diperkirakanmencapai 30%-35% atau kandungan minyak dalam kopra mencapai 63-72%. Minyak kelapa sebagai mana minyak nabati lainnya merupakan senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam  lemak dan 90% diantarannya merupakan asam lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa yang belum dimurnikan juga mengandung sejumlah kecil komponen bukan lemak seperti fosfida, gum, sterol (0,06-0,08%), tokoferol (0,003%), dan asam lemak bebas (<5%) dan sedikit protein dan karotin. Sterol berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak dan tokoferol sebagai antioksidan (Kataren, 1986). Setiap minyak nabati memiliki sifat dan ciri tersendiri yang sangat ditentukan oleh struktur asam lemak pada rangkain trigliseridanya. Minyak kelapa kaya akan asam lemak berantai khususnya asam laurat dan asam meristat. Adanya asam lemak rantai sedang ini (medium chain fat) yang relatif tinggi membuat minyak kelapa mempunyai beberapa sifat daya bunuh terhadap beberapa senyawa yang berbahayadidalam tubuh manusia. Sifat inilah yang didayagunakan pada pembuata minyak kelapa murni (VCO, virgin coconut oil).
          Secara garis besar proses pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan dua cara :
1.     Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa segar, atau dikenal dengan proses basah. Untuk menghasilkan minyak dari proses basah dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a.     Cara Basah Tradisional
b.     Cara Basah Fermentasi
c.     Cara Basah Sentrifugasi
d.     Cara Basah dengan Penggorengan
2.     Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa yang telah dikeringkan (kopra) atau dikenal dengan proses kering. Untuk menghasilkan minyak dari proses basah dapat dilakukan dengan beberap cara,yaitu :
a.     Ekstraksi secara mekanis (cara pres)
b.     Ekstraksi menggunakan pelarut

A. Pengolahan Minyak kelapa cara basah
Pembuatan minyak kelapa dengan cara basah dapat dilakukan dengan pembuatan santan terlebih dahulu atau dapat juga dipres dari daging kelapa setelah digoreng.
Santan kelapa merupakan cairan hasil ekstraksi dari kelapa parut dengan menggunakan air. Bila santan didiamkan secara pelan-pelan akan terjadi pemisahan bagian yang kaya dengan minyak dengan bagian yang kurang dengan minyak. Bagian yang kaya dengan minyak disebut sebagai krim, yang bagian yang kurang dengan minyak disebut dengan skim. Krim lebih ringan dibanding skim, karena itu krim berada dibagian atas dan skim pada bagian bawah.
1). Cara Basah Tradisional
     Ini sangat sederhana dapat digunakan dengan peralatan yang biasa terdapat didapur keluarga. Pada cara ini, mula-mula dilakukan ekstraksi dari kelapa parut. Kemudian santan dipanaskan untuk menguapkan air dan menggumpalkan bagian yang bukan minyak yang disebut blondo. Blondo ini dipisahkan dari minyak terakhir, blondo diperas untuk mengeluarkan sisa minyak.
2). Cara  Basah Fermentasi
     Ini agak berbeda dari cara basah tradisional, pada cara ini santan didiamkan untuk memisahkan skim dari krim. Selanjutnya krim dipermentasi untuk memudahkan pengumpulan bagian yang bukan minyak (terutama protein) dari minyak pada waktu pemanasan. Mikroba yang berkembang selama fermentasi, terutama mikroba penghasil asam. Asam yang dihasilkan menyebabkan protein santan mengalami penggumpalan dan mudah dipisahkan saat pemanasan
3). Cara Basah (Lava Process)
     Cara ini agak mirip dengan cara basah fermentasi. Pada cara ini, santan diberi perlakuan sentrifugasi agar terjadi pemisan skim dank rim. Pada proses sentrifugasi santan pada kecepatan 3000-3500 rpm. Sehingga terjadi pemisahan fraksi kaya minyak (krim)  dan fraksi yang kurang minyak (skim), selanjutnya diasamkan.
     Selanjutnya krim diasmkan dengan menggunakan asam asetat, sitrat atau HCl sampai pH4. Setelah itu santan dipanaskan dan diperlakukan seperti cara basah tradisional  atau cara basah fermentasi, kemudian diberi perlakuan sentrifugasi sekali lagi untuk memisahkan minyak dari bagian yang bukan minyak. Skim santan diolah menjadi konsentrat protein berupa butiran atau tepung.