Senin, 21 November 2016

Analisi Ekologi Industri Diperusahaan Minyak Kelapa



ANALISIS EKOLOGI INDUSTRI DI PERUSAHAAN MINYAK KELAPA

Description: Image result for logo k3
     
 Mata Kuliah               : Ekologi Industri
    Pengajar             : Rahayu Akili,S.KM,M.Kes
     Oleh               : Firsty Jovial Noli
      NRI               : 14111101347


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016
Indonesia merupakan Negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar didunia dengan areal 3,88 juta hektar (97% merupakan perkebunan rakyat), memproduksi kelapa 3,2 juta ton setara kopra. Selama 34 tahun, luas tanaman kelapa meningkat dari 1,66 juta hektar pada tahun 1969 menajdi 3,89 juta hektar pada tahun 2005. Walaupun luas areal meningkat, namun produktivitas pertanaman cenderung semakin menurun (tahun 2001 rata-rata 1,3 ton/Ha, tahun 2005 rata-rata 0,7 ton/Ha). Produktivitas lahan kelapa Indonesia masih rendah dibandingkan dengan india dan srilangka. Perkebunan kelapa rakyat dicirikan memiliki lahan  yang sempit, pemeliharaan seadanya atau tidak sama sekali dan tidak pada skala komersial. Permintaan produk-produk berbasis kelapa  masih terus meningkaik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri. Industry turunan kelapa masih bias dikembangkan dengan melakukan diversifikasi produk olahan antara lain : oleo kimia, desiccated coconut, virgin oil, dan lain-lain.
          Selain itu, dengan berprinsip pada ekologi industri  yang diharapkan mampu menciptakan efisiensi dalam pengolahan bahan baku, dimana pengembangan ekologi industri merupakan suatu usaha untuk membuat konsep baru dalam mempelajari dampak system industri pada lingkungan. Ekologi industry adalah suatu sitem yang dugunakan untuk mengelola aliran energy atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi. Tujuan utamanya adalah mengorganisasi system industry sehingga diperoleh suatu jenis operasi yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep  ekologi industry dan empat elemen utama yaitu : mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energy yang tidak  terbarukan pada kajian ini, penerapan ekologi industry kelapa yang dapat dimaksimalkan pengolahannya dengan prinsip integrasi.



• Teknologi Proses Pengolahan Minyak Kelapa :
Minyak kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang dikeringkan) atau dari perasan santanya. Kandungan minyak pada daging buah kelapa tua diperkirakanmencapai 30%-35% atau kandungan minyak dalam kopra mencapai 63-72%. Minyak kelapa sebagai mana minyak nabati lainnya merupakan senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam  lemak dan 90% diantarannya merupakan asam lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa yang belum dimurnikan juga mengandung sejumlah kecil komponen bukan lemak seperti fosfida, gum, sterol (0,06-0,08%), tokoferol (0,003%), dan asam lemak bebas (<5%) dan sedikit protein dan karotin. Sterol berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak dan tokoferol sebagai antioksidan (Kataren, 1986). Setiap minyak nabati memiliki sifat dan ciri tersendiri yang sangat ditentukan oleh struktur asam lemak pada rangkain trigliseridanya. Minyak kelapa kaya akan asam lemak berantai khususnya asam laurat dan asam meristat. Adanya asam lemak rantai sedang ini (medium chain fat) yang relatif tinggi membuat minyak kelapa mempunyai beberapa sifat daya bunuh terhadap beberapa senyawa yang berbahayadidalam tubuh manusia. Sifat inilah yang didayagunakan pada pembuata minyak kelapa murni (VCO, virgin coconut oil).
          Secara garis besar proses pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan dua cara :
1.     Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa segar, atau dikenal dengan proses basah. Untuk menghasilkan minyak dari proses basah dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a.     Cara Basah Tradisional
b.     Cara Basah Fermentasi
c.     Cara Basah Sentrifugasi
d.     Cara Basah dengan Penggorengan
2.     Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa yang telah dikeringkan (kopra) atau dikenal dengan proses kering. Untuk menghasilkan minyak dari proses basah dapat dilakukan dengan beberap cara,yaitu :
a.     Ekstraksi secara mekanis (cara pres)
b.     Ekstraksi menggunakan pelarut

A. Pengolahan Minyak kelapa cara basah
Pembuatan minyak kelapa dengan cara basah dapat dilakukan dengan pembuatan santan terlebih dahulu atau dapat juga dipres dari daging kelapa setelah digoreng.
Santan kelapa merupakan cairan hasil ekstraksi dari kelapa parut dengan menggunakan air. Bila santan didiamkan secara pelan-pelan akan terjadi pemisahan bagian yang kaya dengan minyak dengan bagian yang kurang dengan minyak. Bagian yang kaya dengan minyak disebut sebagai krim, yang bagian yang kurang dengan minyak disebut dengan skim. Krim lebih ringan dibanding skim, karena itu krim berada dibagian atas dan skim pada bagian bawah.
1). Cara Basah Tradisional
     Ini sangat sederhana dapat digunakan dengan peralatan yang biasa terdapat didapur keluarga. Pada cara ini, mula-mula dilakukan ekstraksi dari kelapa parut. Kemudian santan dipanaskan untuk menguapkan air dan menggumpalkan bagian yang bukan minyak yang disebut blondo. Blondo ini dipisahkan dari minyak terakhir, blondo diperas untuk mengeluarkan sisa minyak.
2). Cara  Basah Fermentasi
     Ini agak berbeda dari cara basah tradisional, pada cara ini santan didiamkan untuk memisahkan skim dari krim. Selanjutnya krim dipermentasi untuk memudahkan pengumpulan bagian yang bukan minyak (terutama protein) dari minyak pada waktu pemanasan. Mikroba yang berkembang selama fermentasi, terutama mikroba penghasil asam. Asam yang dihasilkan menyebabkan protein santan mengalami penggumpalan dan mudah dipisahkan saat pemanasan
3). Cara Basah (Lava Process)
     Cara ini agak mirip dengan cara basah fermentasi. Pada cara ini, santan diberi perlakuan sentrifugasi agar terjadi pemisan skim dank rim. Pada proses sentrifugasi santan pada kecepatan 3000-3500 rpm. Sehingga terjadi pemisahan fraksi kaya minyak (krim)  dan fraksi yang kurang minyak (skim), selanjutnya diasamkan.
     Selanjutnya krim diasmkan dengan menggunakan asam asetat, sitrat atau HCl sampai pH4. Setelah itu santan dipanaskan dan diperlakukan seperti cara basah tradisional  atau cara basah fermentasi, kemudian diberi perlakuan sentrifugasi sekali lagi untuk memisahkan minyak dari bagian yang bukan minyak. Skim santan diolah menjadi konsentrat protein berupa butiran atau tepung.




ANALISIS EKOLOGI INDUSTRI DI PERUSAHAAN MINYAK KELAPA

Description: Image result for logo k3
     
 Mata Kuliah               : Ekologi Industri
    Pengajar             : Rahayu Akili,S.KM,M.Kes
     Oleh               : Firsty Jovial Noli
      NRI               : 14111101347


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016
Indonesia merupakan Negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar didunia dengan areal 3,88 juta hektar (97% merupakan perkebunan rakyat), memproduksi kelapa 3,2 juta ton setara kopra. Selama 34 tahun, luas tanaman kelapa meningkat dari 1,66 juta hektar pada tahun 1969 menajdi 3,89 juta hektar pada tahun 2005. Walaupun luas areal meningkat, namun produktivitas pertanaman cenderung semakin menurun (tahun 2001 rata-rata 1,3 ton/Ha, tahun 2005 rata-rata 0,7 ton/Ha). Produktivitas lahan kelapa Indonesia masih rendah dibandingkan dengan india dan srilangka. Perkebunan kelapa rakyat dicirikan memiliki lahan  yang sempit, pemeliharaan seadanya atau tidak sama sekali dan tidak pada skala komersial. Permintaan produk-produk berbasis kelapa  masih terus meningkaik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri. Industry turunan kelapa masih bias dikembangkan dengan melakukan diversifikasi produk olahan antara lain : oleo kimia, desiccated coconut, virgin oil, dan lain-lain.
          Selain itu, dengan berprinsip pada ekologi industri  yang diharapkan mampu menciptakan efisiensi dalam pengolahan bahan baku, dimana pengembangan ekologi industri merupakan suatu usaha untuk membuat konsep baru dalam mempelajari dampak system industri pada lingkungan. Ekologi industry adalah suatu sitem yang dugunakan untuk mengelola aliran energy atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi. Tujuan utamanya adalah mengorganisasi system industry sehingga diperoleh suatu jenis operasi yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep  ekologi industry dan empat elemen utama yaitu : mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energy yang tidak  terbarukan pada kajian ini, penerapan ekologi industry kelapa yang dapat dimaksimalkan pengolahannya dengan prinsip integrasi.



• Teknologi Proses Pengolahan Minyak Kelapa :
Minyak kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang dikeringkan) atau dari perasan santanya. Kandungan minyak pada daging buah kelapa tua diperkirakanmencapai 30%-35% atau kandungan minyak dalam kopra mencapai 63-72%. Minyak kelapa sebagai mana minyak nabati lainnya merupakan senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam  lemak dan 90% diantarannya merupakan asam lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa yang belum dimurnikan juga mengandung sejumlah kecil komponen bukan lemak seperti fosfida, gum, sterol (0,06-0,08%), tokoferol (0,003%), dan asam lemak bebas (<5%) dan sedikit protein dan karotin. Sterol berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak dan tokoferol sebagai antioksidan (Kataren, 1986). Setiap minyak nabati memiliki sifat dan ciri tersendiri yang sangat ditentukan oleh struktur asam lemak pada rangkain trigliseridanya. Minyak kelapa kaya akan asam lemak berantai khususnya asam laurat dan asam meristat. Adanya asam lemak rantai sedang ini (medium chain fat) yang relatif tinggi membuat minyak kelapa mempunyai beberapa sifat daya bunuh terhadap beberapa senyawa yang berbahayadidalam tubuh manusia. Sifat inilah yang didayagunakan pada pembuata minyak kelapa murni (VCO, virgin coconut oil).
          Secara garis besar proses pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan dua cara :
1.     Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa segar, atau dikenal dengan proses basah. Untuk menghasilkan minyak dari proses basah dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a.     Cara Basah Tradisional
b.     Cara Basah Fermentasi
c.     Cara Basah Sentrifugasi
d.     Cara Basah dengan Penggorengan
2.     Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa yang telah dikeringkan (kopra) atau dikenal dengan proses kering. Untuk menghasilkan minyak dari proses basah dapat dilakukan dengan beberap cara,yaitu :
a.     Ekstraksi secara mekanis (cara pres)
b.     Ekstraksi menggunakan pelarut

A. Pengolahan Minyak kelapa cara basah
Pembuatan minyak kelapa dengan cara basah dapat dilakukan dengan pembuatan santan terlebih dahulu atau dapat juga dipres dari daging kelapa setelah digoreng.
Santan kelapa merupakan cairan hasil ekstraksi dari kelapa parut dengan menggunakan air. Bila santan didiamkan secara pelan-pelan akan terjadi pemisahan bagian yang kaya dengan minyak dengan bagian yang kurang dengan minyak. Bagian yang kaya dengan minyak disebut sebagai krim, yang bagian yang kurang dengan minyak disebut dengan skim. Krim lebih ringan dibanding skim, karena itu krim berada dibagian atas dan skim pada bagian bawah.
1). Cara Basah Tradisional
     Ini sangat sederhana dapat digunakan dengan peralatan yang biasa terdapat didapur keluarga. Pada cara ini, mula-mula dilakukan ekstraksi dari kelapa parut. Kemudian santan dipanaskan untuk menguapkan air dan menggumpalkan bagian yang bukan minyak yang disebut blondo. Blondo ini dipisahkan dari minyak terakhir, blondo diperas untuk mengeluarkan sisa minyak.
2). Cara  Basah Fermentasi
     Ini agak berbeda dari cara basah tradisional, pada cara ini santan didiamkan untuk memisahkan skim dari krim. Selanjutnya krim dipermentasi untuk memudahkan pengumpulan bagian yang bukan minyak (terutama protein) dari minyak pada waktu pemanasan. Mikroba yang berkembang selama fermentasi, terutama mikroba penghasil asam. Asam yang dihasilkan menyebabkan protein santan mengalami penggumpalan dan mudah dipisahkan saat pemanasan
3). Cara Basah (Lava Process)
     Cara ini agak mirip dengan cara basah fermentasi. Pada cara ini, santan diberi perlakuan sentrifugasi agar terjadi pemisan skim dank rim. Pada proses sentrifugasi santan pada kecepatan 3000-3500 rpm. Sehingga terjadi pemisahan fraksi kaya minyak (krim)  dan fraksi yang kurang minyak (skim), selanjutnya diasamkan.
     Selanjutnya krim diasmkan dengan menggunakan asam asetat, sitrat atau HCl sampai pH4. Setelah itu santan dipanaskan dan diperlakukan seperti cara basah tradisional  atau cara basah fermentasi, kemudian diberi perlakuan sentrifugasi sekali lagi untuk memisahkan minyak dari bagian yang bukan minyak. Skim santan diolah menjadi konsentrat protein berupa butiran atau tepung.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar