ANALISIS EKOLOGI INDUSTRI DI PERUSAHAAN
MINYAK KELAPA

Mata Kuliah :
Ekologi Industri
Pengajar
: Rahayu Akili,S.KM,M.Kes
Oleh :
Firsty Jovial Noli
NRI :
14111101347
FAKULTAS KESEHATAN
MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016
Indonesia
merupakan Negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar didunia dengan
areal 3,88 juta hektar (97% merupakan perkebunan rakyat), memproduksi kelapa
3,2 juta ton setara kopra. Selama 34 tahun, luas tanaman kelapa meningkat dari
1,66 juta hektar pada tahun 1969 menajdi 3,89 juta hektar pada tahun 2005.
Walaupun luas areal meningkat, namun produktivitas pertanaman cenderung semakin
menurun (tahun 2001 rata-rata 1,3 ton/Ha, tahun 2005 rata-rata 0,7 ton/Ha).
Produktivitas lahan kelapa Indonesia masih rendah dibandingkan dengan india dan
srilangka. Perkebunan kelapa rakyat dicirikan memiliki lahan yang sempit, pemeliharaan seadanya atau tidak
sama sekali dan tidak pada skala komersial. Permintaan produk-produk berbasis
kelapa masih terus meningkaik untuk
ekspor maupun pasar dalam negeri. Industry turunan kelapa masih bias
dikembangkan dengan melakukan diversifikasi produk olahan antara lain : oleo
kimia, desiccated coconut, virgin oil, dan lain-lain.
Selain itu, dengan berprinsip pada
ekologi industri yang diharapkan mampu
menciptakan efisiensi dalam pengolahan bahan baku, dimana pengembangan ekologi
industri merupakan suatu usaha untuk membuat konsep baru dalam mempelajari
dampak system industri pada lingkungan. Ekologi industry adalah suatu sitem
yang dugunakan untuk mengelola aliran energy atau material sehingga diperoleh
efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi. Tujuan utamanya adalah
mengorganisasi system industry sehingga diperoleh suatu jenis operasi yang ramah
lingkungan dan berkesinambungan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep ekologi industry dan empat elemen utama yaitu
: mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material
yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan pengurangan
dan penghilangan ketergantungan pada sumber energy yang tidak terbarukan pada kajian ini, penerapan ekologi
industry kelapa yang dapat dimaksimalkan pengolahannya dengan prinsip
integrasi.
• Teknologi Proses Pengolahan Minyak Kelapa
:
Minyak
kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang
dikeringkan) atau dari perasan santanya. Kandungan minyak pada daging buah
kelapa tua diperkirakanmencapai 30%-35% atau kandungan minyak dalam kopra
mencapai 63-72%. Minyak kelapa sebagai mana minyak nabati lainnya merupakan
senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam lemak dan 90% diantarannya merupakan asam
lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa yang belum dimurnikan juga mengandung
sejumlah kecil komponen bukan lemak seperti fosfida, gum, sterol (0,06-0,08%),
tokoferol (0,003%), dan asam lemak bebas (<5%) dan sedikit protein dan
karotin. Sterol berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak dan tokoferol sebagai
antioksidan (Kataren, 1986). Setiap minyak nabati memiliki sifat dan ciri
tersendiri yang sangat ditentukan oleh struktur asam lemak pada rangkain
trigliseridanya. Minyak kelapa kaya akan asam lemak berantai khususnya asam
laurat dan asam meristat. Adanya asam lemak rantai sedang ini (medium chain
fat) yang relatif tinggi membuat minyak kelapa mempunyai beberapa sifat daya
bunuh terhadap beberapa senyawa yang berbahayadidalam tubuh manusia. Sifat
inilah yang didayagunakan pada pembuata minyak kelapa murni (VCO, virgin coconut oil).
Secara garis besar proses pembuatan
minyak kelapa dapat dilakukan dengan dua cara :
1.
Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa
segar, atau dikenal dengan proses basah. Untuk menghasilkan minyak dari proses
basah dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a.
Cara Basah Tradisional
b.
Cara Basah Fermentasi
c.
Cara Basah Sentrifugasi
d.
Cara Basah dengan Penggorengan
2.
Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa
yang telah dikeringkan (kopra) atau dikenal dengan proses kering. Untuk
menghasilkan minyak dari proses basah dapat dilakukan dengan beberap cara,yaitu
:
a.
Ekstraksi secara mekanis (cara pres)
b.
Ekstraksi menggunakan pelarut
A. Pengolahan Minyak kelapa cara basah
Pembuatan minyak kelapa dengan cara basah
dapat dilakukan dengan pembuatan santan terlebih dahulu atau dapat juga dipres
dari daging kelapa setelah digoreng.
Santan kelapa merupakan cairan hasil
ekstraksi dari kelapa parut dengan menggunakan air. Bila santan didiamkan
secara pelan-pelan akan terjadi pemisahan bagian yang kaya dengan minyak dengan
bagian yang kurang dengan minyak. Bagian yang kaya dengan minyak disebut
sebagai krim, yang bagian yang kurang dengan minyak disebut dengan skim. Krim
lebih ringan dibanding skim, karena itu krim berada dibagian atas dan skim pada
bagian bawah.
1).
Cara Basah Tradisional
Ini
sangat sederhana dapat digunakan dengan peralatan yang biasa terdapat didapur
keluarga. Pada cara ini, mula-mula dilakukan ekstraksi dari kelapa parut.
Kemudian santan dipanaskan untuk menguapkan air dan menggumpalkan bagian yang
bukan minyak yang disebut blondo. Blondo ini dipisahkan dari minyak terakhir,
blondo diperas untuk mengeluarkan sisa minyak.
2).
Cara Basah Fermentasi
Ini
agak berbeda dari cara basah tradisional, pada cara ini santan didiamkan untuk
memisahkan skim dari krim. Selanjutnya krim dipermentasi untuk memudahkan
pengumpulan bagian yang bukan minyak (terutama protein) dari minyak pada waktu
pemanasan. Mikroba yang berkembang selama fermentasi, terutama mikroba
penghasil asam. Asam yang dihasilkan menyebabkan protein santan mengalami
penggumpalan dan mudah dipisahkan saat pemanasan
3).
Cara Basah (Lava Process)
Cara
ini agak mirip dengan cara basah fermentasi. Pada cara ini, santan diberi
perlakuan sentrifugasi agar terjadi pemisan skim dank rim. Pada proses
sentrifugasi santan pada kecepatan 3000-3500 rpm. Sehingga terjadi pemisahan
fraksi kaya minyak (krim) dan fraksi
yang kurang minyak (skim), selanjutnya diasamkan.
Selanjutnya
krim diasmkan dengan menggunakan asam asetat, sitrat atau HCl sampai pH4.
Setelah itu santan dipanaskan dan diperlakukan seperti cara basah
tradisional atau cara basah fermentasi,
kemudian diberi perlakuan sentrifugasi sekali lagi untuk memisahkan minyak dari
bagian yang bukan minyak. Skim santan diolah menjadi konsentrat protein berupa
butiran atau tepung.
ANALISIS EKOLOGI INDUSTRI DI PERUSAHAAN
MINYAK KELAPA

Mata Kuliah :
Ekologi Industri
Pengajar
: Rahayu Akili,S.KM,M.Kes
Oleh :
Firsty Jovial Noli
NRI :
14111101347
FAKULTAS KESEHATAN
MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016
Indonesia
merupakan Negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar didunia dengan
areal 3,88 juta hektar (97% merupakan perkebunan rakyat), memproduksi kelapa
3,2 juta ton setara kopra. Selama 34 tahun, luas tanaman kelapa meningkat dari
1,66 juta hektar pada tahun 1969 menajdi 3,89 juta hektar pada tahun 2005.
Walaupun luas areal meningkat, namun produktivitas pertanaman cenderung semakin
menurun (tahun 2001 rata-rata 1,3 ton/Ha, tahun 2005 rata-rata 0,7 ton/Ha).
Produktivitas lahan kelapa Indonesia masih rendah dibandingkan dengan india dan
srilangka. Perkebunan kelapa rakyat dicirikan memiliki lahan yang sempit, pemeliharaan seadanya atau tidak
sama sekali dan tidak pada skala komersial. Permintaan produk-produk berbasis
kelapa masih terus meningkaik untuk
ekspor maupun pasar dalam negeri. Industry turunan kelapa masih bias
dikembangkan dengan melakukan diversifikasi produk olahan antara lain : oleo
kimia, desiccated coconut, virgin oil, dan lain-lain.
Selain itu, dengan berprinsip pada
ekologi industri yang diharapkan mampu
menciptakan efisiensi dalam pengolahan bahan baku, dimana pengembangan ekologi
industri merupakan suatu usaha untuk membuat konsep baru dalam mempelajari
dampak system industri pada lingkungan. Ekologi industry adalah suatu sitem
yang dugunakan untuk mengelola aliran energy atau material sehingga diperoleh
efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi. Tujuan utamanya adalah
mengorganisasi system industry sehingga diperoleh suatu jenis operasi yang ramah
lingkungan dan berkesinambungan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep ekologi industry dan empat elemen utama yaitu
: mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material
yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan pengurangan
dan penghilangan ketergantungan pada sumber energy yang tidak terbarukan pada kajian ini, penerapan ekologi
industry kelapa yang dapat dimaksimalkan pengolahannya dengan prinsip
integrasi.
• Teknologi Proses Pengolahan Minyak Kelapa
:
Minyak
kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang
dikeringkan) atau dari perasan santanya. Kandungan minyak pada daging buah
kelapa tua diperkirakanmencapai 30%-35% atau kandungan minyak dalam kopra
mencapai 63-72%. Minyak kelapa sebagai mana minyak nabati lainnya merupakan
senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam lemak dan 90% diantarannya merupakan asam
lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa yang belum dimurnikan juga mengandung
sejumlah kecil komponen bukan lemak seperti fosfida, gum, sterol (0,06-0,08%),
tokoferol (0,003%), dan asam lemak bebas (<5%) dan sedikit protein dan
karotin. Sterol berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak dan tokoferol sebagai
antioksidan (Kataren, 1986). Setiap minyak nabati memiliki sifat dan ciri
tersendiri yang sangat ditentukan oleh struktur asam lemak pada rangkain
trigliseridanya. Minyak kelapa kaya akan asam lemak berantai khususnya asam
laurat dan asam meristat. Adanya asam lemak rantai sedang ini (medium chain
fat) yang relatif tinggi membuat minyak kelapa mempunyai beberapa sifat daya
bunuh terhadap beberapa senyawa yang berbahayadidalam tubuh manusia. Sifat
inilah yang didayagunakan pada pembuata minyak kelapa murni (VCO, virgin coconut oil).
Secara garis besar proses pembuatan
minyak kelapa dapat dilakukan dengan dua cara :
1.
Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa
segar, atau dikenal dengan proses basah. Untuk menghasilkan minyak dari proses
basah dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a.
Cara Basah Tradisional
b.
Cara Basah Fermentasi
c.
Cara Basah Sentrifugasi
d.
Cara Basah dengan Penggorengan
2.
Minyak kelapa diekstrak dari daging kelapa
yang telah dikeringkan (kopra) atau dikenal dengan proses kering. Untuk
menghasilkan minyak dari proses basah dapat dilakukan dengan beberap cara,yaitu
:
a.
Ekstraksi secara mekanis (cara pres)
b.
Ekstraksi menggunakan pelarut
A. Pengolahan Minyak kelapa cara basah
Pembuatan minyak kelapa dengan cara basah
dapat dilakukan dengan pembuatan santan terlebih dahulu atau dapat juga dipres
dari daging kelapa setelah digoreng.
Santan kelapa merupakan cairan hasil
ekstraksi dari kelapa parut dengan menggunakan air. Bila santan didiamkan
secara pelan-pelan akan terjadi pemisahan bagian yang kaya dengan minyak dengan
bagian yang kurang dengan minyak. Bagian yang kaya dengan minyak disebut
sebagai krim, yang bagian yang kurang dengan minyak disebut dengan skim. Krim
lebih ringan dibanding skim, karena itu krim berada dibagian atas dan skim pada
bagian bawah.
1).
Cara Basah Tradisional
Ini
sangat sederhana dapat digunakan dengan peralatan yang biasa terdapat didapur
keluarga. Pada cara ini, mula-mula dilakukan ekstraksi dari kelapa parut.
Kemudian santan dipanaskan untuk menguapkan air dan menggumpalkan bagian yang
bukan minyak yang disebut blondo. Blondo ini dipisahkan dari minyak terakhir,
blondo diperas untuk mengeluarkan sisa minyak.
2).
Cara Basah Fermentasi
Ini
agak berbeda dari cara basah tradisional, pada cara ini santan didiamkan untuk
memisahkan skim dari krim. Selanjutnya krim dipermentasi untuk memudahkan
pengumpulan bagian yang bukan minyak (terutama protein) dari minyak pada waktu
pemanasan. Mikroba yang berkembang selama fermentasi, terutama mikroba
penghasil asam. Asam yang dihasilkan menyebabkan protein santan mengalami
penggumpalan dan mudah dipisahkan saat pemanasan
3).
Cara Basah (Lava Process)
Cara
ini agak mirip dengan cara basah fermentasi. Pada cara ini, santan diberi
perlakuan sentrifugasi agar terjadi pemisan skim dank rim. Pada proses
sentrifugasi santan pada kecepatan 3000-3500 rpm. Sehingga terjadi pemisahan
fraksi kaya minyak (krim) dan fraksi
yang kurang minyak (skim), selanjutnya diasamkan.
Selanjutnya
krim diasmkan dengan menggunakan asam asetat, sitrat atau HCl sampai pH4.
Setelah itu santan dipanaskan dan diperlakukan seperti cara basah
tradisional atau cara basah fermentasi,
kemudian diberi perlakuan sentrifugasi sekali lagi untuk memisahkan minyak dari
bagian yang bukan minyak. Skim santan diolah menjadi konsentrat protein berupa
butiran atau tepung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar