Ekologi
Industri Dalam Mendukung Pembangunan Agro-Industrial Park Skala Pedesaan
Dosen
Pengajar : dr.Lery.Suoth

Nama
: Firsty Jovial Noli
NRI :
14111101347
Fakultas
Kesehatan Masyarakat
Universitas
Sam Ratulangi
Manado
2016
Metode
Penelitian :
Penulis melakukan studi
literature dan studi pendahuluan untuk mengetahui proses kegiatan di CV.
Bangkit Mandiri dikarang jati. Proses kegiatan yang terjadi merupakan kegiatan
yang saling berkelanjutan dan tersimbiosis. Simbiosis industry merupakan sebuah
bentuk kerjasama yang memiliki tingkat yang saling bergantungan antar kegiatan
industri yang melakukan pertukaran material, energy dan berbagai hal lain yang
saling menguntungkan bersama Frosch dan
Gallopoulos (1989) memberikan gambaran “ekosistem industry” dimana konsumsi energy dan material
dioptimalkan dan hasil dari suatu proses
dapat merupakan bahan baku bagi proses lain. Dari siklus rangkaian kegiatan
industri ini diharapkan dapat
meminimalkan limbah dan membentuk siklus tertutup (close loop) serta nir limbah
(zero waste) bagi perusahaan.
Jenis penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah action research. Action research adalah
penelitian komparatif pada kondisi dan efek berbagai bentuk tindakan social dan
penelitian yang mengarah pada perubahan social (Reason & Bradbury, 2001).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi. Analisis dilakukan
dengan membandingkan kondisi yang ada dengan pengembangan model sehingga dapat
diketahui siklus keseimbangan dari model agro-eko-industri.
Metode yang digunakan dalam
metode ini adalah menggunakan mass balance dalam model matematis. Dari model
dapat dilihat input dan outpu dan material tiap industry dan limbah yang belum
dimanfaatkan
Identifikasi
Variabel :
Untuk mengetahui kelebihan
dari model yang dibuat maka perlu dilakukan analisis terhadap beberapa
variable. Apabila dikaitkan dengan konsep EIP (Lowe,2001), maka variable yang
dijadikan patokan analisi model adalah :
1. Penggunaan
energi dan air
2. Pengolahan
aliran material dan limbah
3. Manajemen
EIP yang efektif
4. Integrasi
dengan masyarakat
Hasil
dan Pembahasan faktor pemicu :
Faktor pemicu disini adalah
industri yang menjadi dasar dari terbentuknya suatu model. Segala perubahan yang terjadi didalam model diawali
dari dari perubahan dari faktor pemicu. Dalam penelitian ini dipilih usaha
peternakan sapi sebagai faktor pemicu. Pemilihina factor pemicu ini berawal
dari isu yang sudah berkembnag dimasyarakat mengenai program pemerintah tentang
swasembada daging sapi (PSDS). Melalui PSDS pemerintah berupaya untuk meningkatakan populasi ternak sapi
sehingga mencapai 14,2 juta ekor pada tahun 2014 dapat mecukupi 90-95% dari
permintaan daging nasional. Peningkatan
populasi ternak sapi secara nasional
dan regional akan meningkatkan limbah yang dihasilkan. Apabila limbah
tersebut tidak dikelola sangat berpotensi menyebabakan pencemaran lingkunagn
terutama dari limbah kotoran yang dihasilkan ternak setiap setiap hari.
Pembuangan kotoran ternak sembarangan dapat menyebabkan pencemaran pada air,
tanah dan udara (Bau), berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas
hidup peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik social.
Faktor
Pendukung :
Faktor pendukung disini
ialah industri yang mendukung factor pemicu dalam pengembangan model AEIP.
Industry-industri yang mendukung peternakan dalam penelitian ini adalah sbb :
Biodigester
:
Biodigester atau biasa yang
disebut dengan Bio reactor yanag merupakan reactor anaerob. Reactor ini sangat
afektif untuk pengolahan kotoran ternak yang dirombak menjadi bahan biogas oleh
mikroba dalam kondisi tanpa oksigen dan dari bio reactor ini dapat menghasilkan
gas dari kotoran sapi yang digunakan sebagai inputan untuk biodigester yang
dikenal dengan biogas. Berdasarkan penelitian Amaru (2004), limbah kotoran
padat dan cair ternak sapi dapat diolah dalam biodigester menjadi sumber energi
yang terbarukan.
Alasan lain dalam pemilihan biodigester kedalam model AEIP
ini adalah dengan adanya program swasembada daging sapi pada tahun 2014, maka
akan terjadi peningkatan limbah dari kotoran ternak. Kotoran biodigester dapat
meredam peningkatan kotoran yang dihasilkan . salah satu kandungan kotoran sapi
yaitu gas metana. Gas metana merupakan komponen terbesar dalam pembuatan
biogas. Menurut KLH (2006), penggunaan biogas ini merupakan salah satu cara
untuk mengurangi pecemaran lingkungan, karena dengan fermentasi pengurangan
pencemaran lingkungan, dengan parameter BOD, COD akan berkurang sampai 90%.
System ini banyak dapakai dengan petimbangan ada manfaat yang bias diambil
yaitu pemanfaatan biogas yang sangat memungkinkan digunakan sebagai bahan
sumber energy karena gas metan sama dengan gas elpiji (liquid petroleum
gas/LPG).
Industri
pupuk organic :
Pemilihan pupuk organik
sebagai salah satu factor pendukung karena adalah hasil samping dan pebuatan
biogas yaitu slury yaitu lumpur hasil
samping biogas yang gasnya telah hilang dan banyak mengandung unsur hara yang
tinggi untuk tanaman. Lumpur tersebut mengandung padatan dan cairan. Padatan
tersebut dapat dijadikan kompos dengancara dikeringkan, sedangkan cairan
tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair.
Hijauan
Ternak :
Berdasarkan program
swasembada daging sapi 2014, hijauan ternak merupakan kebutuhan pakan yang
sangat dibutuhkan untuk konsumsi. Menurut Badai Pengkajian Teknologi Pertanian
Jawa Barat, 2009 setipa hari sapi memerlukan hijauan sebanyak 10% dari berat
badanya dan konsentrat 1-2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak
halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek,ampas tahu, dan lain-lain, yang
diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Hijauan yang
digunakan sebagai pakan ternak yaitu
hijauan rumput gajah. Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan jenis
rumput unggulan yang mempunyai produktivitas dan kandungan zat gizi yang cukup
tinggi serta serta disukai oleh ternak ruminansia. Rumput gajah mempunyai
produksi bahan kering 40% sampai 63 ton /ha/tahun (Siregar, 1989) dengan
rata-rata kandungan zat-zat gizi yaitu : protein kasar 10,2%, BETN 42,3%, serat
kasar 34,2%, lemak 1,6% abu 11,7% (Chuzaemi dan Soejono, 1987).
Integritas
Industri Pemicu dan Industri Pendukung :
Pada industry tahu
membutuhkan air dan kedelai. Dari umlah air dan kedelai tersebut menghasilkan
tahu, ampas tahu dan limbah cair. Limbah cair kemudian dimanfaatkan untuk
mengganti minum sapi sehingga mengurangi penggunaa air bersih. Sedangkan ampas
tahu dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Selain ampas tahu, peternakan membutuhkan pakan jerami,
ketela, bekatul dan rumput gajah yang dibeli dari pasar. Sedangkan untuk air,
yang dibeli dari pasar. Sedangkan untuk air, peternakan membutuhkan air untuk
membersihkan sapi. Dari pakan dan minum itu peternakan menghasilkan limbah
kotoran sapi padat,kotoran sapi cair dan limbah cair kemudian emudian dimasukan
kedalam biodigester untuk menghasilkan biogas yang digunakan untuk memasak
sehari-hari. Sedangkan kotoran padat sapi ikut dimasukan kedalam biodigester,
gas ini kemudian dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dilingkungan
perusahaan.
Keluaran biogas yaitu slury yang berbentuk lumpur. Lumpur
tersebut dipisahkan antara padatan dana cairan. Cairan tersebut dimanfaatkan
untuk produksi pupuk cair dan padatan tersebut dikeringkan. Kompos digunakan
untuk pemakaian pupuk pada lahan rumput gajah pada saat penanaman.
Analisis
Rancangan Model Berdasarkan Konsep EIP :
Analisi yang dilakukan
didasarkan oleh variabel-variabel yang merupakan prinsip dari model Eco Industrial park. Berdasrakan Lowe
(2000), variabel yang dianalisis adalah penggunaan energy dan air, pengelolaan
material dan limbah, manajemen EIP yang efektif, dan integrasi dengan
masyarakat sekitar.
Penggunaan
Energi dan Air :
Pada model yang dikemangkan
dalam penelitian ini sudah dipertimbangkan mengenai ketiga indicator tersebut.
Model ini sudah melakukan integrasi penggunaan energy antar pabrik dan
penggunaan sumber energy terbarukan yaitu dengan menggunakan energy biogas.
Pada model ini efisiensi energy terlihat pada industry tahu yang mengganti
penggunaan bahan bakar kayu dengan biogas. Sedangkan untuk efisiensi air, model
ini sudah melakukan efisiensi dengan mengurangi penggunaan air pada peternakan
sapi dan menggantinya dengan limbah cair dari industry athu.
Pengelolaan
Aliran Material dan Limbah :
Model yang dikembangkan
dalam penelitian ini sudah mempertimbangkan mengenai komposisi yang seimbang
dilihat dari tidak adanya limbah yang tidak diolah dari masing-masing industry.
Pada model ini dirancang untuk menghasilkan komposisi industry yang tidak
mencemari lingkungan atau dapat dikatakan model yang menerapakan system zero waste.
Integrasi
dengan Masyarakat sekitar :
Model yang dikembangkan ini
sebenarnya adalah untuk mengembangkan potensi yang ada dipedesaan. Manfaat dari
model ini langsung ditujukan untuk masyarakat. Harapan dari model ini adalah untuk
memberikan kemandirian masyarakat terhadap kepenuhan ekonomi dan pemenuhan
kebutuhan energy. Masyarakat diharapkan tidak bergantung lagi semata-mata pada pemerintah dan dapat
memenuhi segala kebutuhan baik ekonomi maupun energy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar